Tampilkan postingan dengan label contoh proposal ptk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label contoh proposal ptk. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 November 2013

PTK-PELAKSANAAN MODEL QUCHING BERKELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI STATIKA PADA PESERTA DIDIK


PELAKSANAAN MODEL QUCHING BERKELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI STATIKA PADA
 PESERTA DIDIK  KELAS X TEKNIK KONSTRUKSI KAYU 1
SMK NEGERI 2 SRAGEN SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN  2012 / 2013

Irmina Titik Purwanti*)
Subyantoro **)
Abstrak
Masalah yang diangkat pada penelitian ini adalah rendahnya prestasi rata-rata peserta didik untuk bidang study Statika pada kelas X TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen.Rendahnya keaktifan peserta didik dan sikap kemandirian pada peserta didik  kelas X TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan pencapaian standart kompetensi Menerapkan ilmu Statika dan tegangan, pada peserta didik kelas X Teknik kontruksi Kayu 1 SMK Negeri 2 Sragen tahun ajaran 2012/2013 nilai KKM 75 dengan jumlah prosentase ketuntasan kopetensi 91,2%, dari 34 pserta didik. Pencapaian keaktifan belajar peserta didik 87,9%, Pencapaian sikap kemandirian pserta didik 93,3%. Berdasarkan hasil penelitian , maka peneliti merekomendasikan bahwa model Quantum Teaching dengan Study Group dapat meningkatkan keaktifan peserta didik , sikap kemandirian  peserta didik dan meningkatkan kompetensi belajar Statika  kelas X Teknik kontruksi kayu 1  SMK Negeri 2 Sragen.
 Kata kunci : Model quantum teaching dengan study group , prestasi belajar Statika.
abstract
The issues raised in this study is the low average achievement of students for field study in class X Statics TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen. The low active learners and independent attitude in class X students of SMK Negeri 2 TKK 1 Sragen.
The results showed that there was an increase in the achievement of competency standards Statics Applying science and voltage, the students of class X 1 Wood construction technique SMK Negeri 2 Sragen school year 2012/2013 the KKM 75 percent the number of completeness competencies 91.2%, from 34 pserta learners . Achievement of the learning activity of students 87.9%, Achieving independence stance pserta students 93.3%. Based on the research results, the researchers recommended that models with Quantum Teaching Study Group to increase active learners, learners' attitude of self-reliance and improve the learning competencies Statics class X 1 wood construction techniques SMK Negeri 2 Sragen.
  Keywords: quantum models to study group teaching, learning achievement Statics.
*(  peneliti guru SMK Negeri 2 Sragen)
* ( Dosen Pembimbing  PTK dari UNES)


PENDAHULUAN
Permasalahan rendahnya kemampuan belajar dan aktifitas belajar Statika pada peserta didik jika tidak diatas akan menyebabkan rendahnya kemampuan menyelesaikan soal, rendahnya penguasaan kompetensi mata pelajaran Statika, sehingga nilai ulangan harian rendah akibatnya hasil belajar Statika secara umum juga rendah. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut guru dapat melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hopkins dalam Zainal Agib (2009 : 44) menjelaskan :
 “ Actions research combines as substantive act with a research procedure, it is action disciplined  by enquiry a personal attempt at under standing while enyaged in a process of improvement and reform ”.
Berdasarkan latarbelakang masalah yang telah diuraikan, maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut, 1)Bagaimana proses pelaksanaan model pembelajaran Quantum Teaching dengan Study Group dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran, 2)Bagaimana peningkatan keaktifan peserta didik kelas X TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen setelah melaksanakan model pembelajaran quantum Teaching dengan Study Group?
Tujuan Penelitian dalam penelitian ini, sebagaimana perumusan masalah yang disusun, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1)Mendiskripsikan proses pelaksanaan model pembelajaran Quantum Teaching dengan Study Group dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran, 2)Mendiskripsikan peningkatan keaktifan peserta didik kelas X TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen setelah melaksanakan model pembelajaran Quantum Teaching dengan Study Group.
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORTIS
Penelitian  ini merujuk pada penelitian sebelumnya, beberapa penelitian yang berhubungan dengan topik ini, yaitu  tentang dampak penerapan quqntum teaching pada siswa semasa orientasi  siswa (MOS)2007, Iyan Humas, Jurnal pendekatan quantum teaching dalam pembelajaran IPA, (jurnal.fkip.uns.ac.id/ index .phpl / pgsdkebumen / article /view /255/143), .  Irmina TP, 2010, Pelaksanaan Model Quantum Teaching dengan Study Group untuk Peningkatan Sikap Percaya Diri Siswa dan Prestasi Belajar Fisika, Kusumo Wardani . 2008. Metode Quantum Teaching Dengan Study Group Untuk Peningkatan Prestasi Belajar Geografi.

Kajian teoritis yang digunakan sebagai kerangka teoristis pada penelitian adalah :
1. Kerangka perencanaan Pembelajaran Quantum
Kerangka perencanaan pembelajaran Quantum dikenal dengan singkatan “ TANDUR” yaitu:1). Tumbuhkan: Konsep tumbuhkan ini sebagai konsep operasional dari prinsip “ bawalah dunia mereka kedunia kita”. Dengan usaha menyertakan siswa dalam pikiran dan emosinya, sehingga tercipta jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling memahami. Dari hal tersebut tersirat, bahwa dalam pendahuluan ( persiapan) pembelajaran dimulai guru seyogyanya menumbuhkan sikap positif dengan menciptakan lingkungan yang positif, lingkungan sosial ( komunikasi belajar), sarana belajar, serta tujuan yang jelas dan memberikan makna pada peserta didik, sehingga menimbulkan rasa ingin tahu. Strategi untuk melaksanakan TUMBUHKAN tidak harus dengan tanya jawab, menulis tujuan pembelajaran di papan tulis, melainkan dapat pula dengan penyajian gambar/ media yang menarik atau lucu, isu mutakhir, atau cerita pendek tentang pengalaman seseorang. 2). Alami :Tahap ini jika tulis pada rencana pelaksanaan pembelajaran terdapat pada kegiatan inti. Konsep ALAMI mengandung pengertian bahwa dalam pembelajaran guru harus memberi pengalaman dan manfaat terhadap pengetahuan yang dibangun peserta didik sehingga menimbulkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Strategi konsep ALAMI dapat menggunakan jembatan keledai, permainan atau simulasi dengan memberikan tugas secara individu atau kelompok untuk mengaktifkan pengetahuan yang telah dimiliki.3). Namai: Konsep ini berada pada kegiatan inti. Yang NAMAI mengandung maksud bahwa penamaan memuaskan hasrat alami otak ( membuat peserta didik penasaran, penuh pertannyaan mengenahi pengalaman) untuk memberikan identita, menguatkan dan mendifinisikan..4). Demostrasikan:Tahap ini masih pada kegiatan ini, Inti pada tahap ini adalah memberikan kesempatan siswa untuk menunjukan bahwa peserta didik tahu. Hal ini sekaligus memberikan kesempatan peserta didik untuk menunjukan tingkat pemahamanan terhadap materi yang dipelajari.Panduan guru untuk memahami tahap ini yaitu dengan cara apa peserta didik dapat memperagakan tingkat kecakapan peserta didik dengan pengetahuan yang baru? 5. Ulangi:Tahap ini jika kita tuangkan pada rencana pelaksanaan pembelajaran terdapat pada penutup. Tahap ini dilaksanakan untuk memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “aku tahu bahwa aku ini “  kegiatan ini dilakukan secaa multi modalitas dan multi kecerdasan Panduan guru untuk memasukan tahap ini yaitu cara apa yang bagi siswa untuk mengulang pelajaran ini? 6). Rayakan: Tahap ini dituangkan pada penutup pembelajaran. Dengan maksud memberikan rasa rampung, untuk menghormati usaha, ketentuan, dan kesuksesan yang  akhirnya memberikan rasa kepuasan dan kegembiraan. Dengan kondisi akhir siswa yang senang maka akan menimbulkan kegairahan siswa dalam belajar  lebih lanjut.(http// Quantum teaching, 2009, Quantum teaching , mengajar yang menyenangkan. Com , 1 febuari 2013)
2. Mengkombinasikan dengan study group
Study group adalah kelompok belajar didalam kelas. Dalam pelaksanaan Quantum teaching di SMK Negeri 2 Sragen, study group dilaksanakan untuk mendukung pelaksanaan Quantum teaching . Adapun pelaksanaan model Quantum teaching dengan study group ini adalah sebagai berikut :
a) Pembentukan kelompok :Dalam pembentukan kelompok ini dilakukan dengan strategi yang dianggap baik dalam proses pembelajaran. Dalam setiap kelompok dimasukkan peserta didik yang memiliki prestasi baik, sehingga dapat mendukung perumusan konsep yang baik dalam kelompok.. Hal ini dilakukan dengan cara yang sama untuk siklus I dan siklus II.
b).Pemberian nama kelompok:
Pemberian nama kelompok ini, guru menganut konsep pemaksimalan memori belajar, dimana nama-nama kelompok adalah nama konsep yang harus difahami oleh peserta didik, seperti kelompok profsor, cindekiawan, insinyur, kontraktor, konsultan, pelaksana. Fasilitasi study group
1) Menumbuhkan minat belajar dalam kelompok
Di dalam menumbuhkan minat belajar dalam kelompok perlu ditumbuhkan dengan berbagai cara yaitu sebagai berikut:
a) Memberikan motivasi atau dorongan secara langsung.
Dorongan secara langsung dilakukan melalui penumbuhan keyakinan setiap kelompok pasti memiliki ciri khas keunggulan masing-masing. Guru menunggu keunggulan apa yang akan ditunjukkan oleh setiap kelompok.
b) Motivasi untuk meraih penghargaan.
Motivasi ini ditumbuhkan melalui perbandingan kelompok. Perbandingan dilakukan dengan mengadu setiap kelompok untuk meraih penghargaan setinggi-tingginya, hal ini dimaksudkan untuk mendorong siswa menempuh resiko keluar dari zona berfikir aktif dan berpikir positip.
2) Merangsang kegiatan berfikir produktif
Untuk kegiatan berfikir produktif kelompok ditumbuhkan melalui pemberian pertanyaan kelompok baik dalam bentuk pertanyaan kelompok ditumbuhkan melalui pemberian pertanyaan kelompok baik dalam bentuk pertanyaan langsung maupun pertanyaan cerita.
3) Menumbuhkan keriangan belajar
Untuk memberikan keriangan pada pserta didik lebih mudah dengan ditumbuhkan melalui study group . keriangan ditumbuhkan melalui adu pendapat antar kelompok, saling memberi semangat antar kelompok dengan tepuk tangan, saling memberikan komentar, dan dengan perdebatan kecil. Fasilitator menjembatani agar perdebatan bersifat terarah dan tidak mengarah pada perdebatan negatif. Dalam siklus II  guru menggunakan musik mozart saat proses diskusi dilakukan guna merangsang kecerdasan peserta didik dalam menemukan jawaban.
4) Memberi kesempatan berdemostrasi
Proses pembelajaran dilakukan seluruhnya secara individu, maka sangat sulit dilakukan pemberian kesempatan berdemostrasi secara merata melalui presentasi.
5) Perayaan kelompok
Untuk perayaan kelompok ini, merupakan pemberian penghargaan atas apa yang dipelajari kelompok.
6) Penutupan kegiatan study group
Yang dimaksudkan kegiatan penutupan pada study group ini adalah untuk memperjelas hasil kgiatan study gruop yang telah dilakukan secara bersama-sama. Guru menyimpulkan konsep-konsep yang dibuat peserta didik, dan melakukan pelurusan –pelurusan konsep yang kurang benar, sehingga disamping memahami konsep yang benar peserta didik juga menjadi faham dengan konsep yang salah dan menjebak.
b) Kerangka pikir
Pelaksanaan Quantum Teaching akan mampu memberikan suasana pembelajaran yang menyenangkan serta mewujudkan transformasi pengalaman dan penguatan yang efektif olek karena siswa melaksanakan pembelajaran tidak dalam kondisi terpaksa atau tidak dalam kondisi tidak senang, akan tetapi dalam suasana penuh motivasi dan tidak tegang.. Sementara itu, melalui study group, siswa dilatih untuk memecahkan masalah secara mandiri sehingga akan terbentuk kemampuan problem solving. Study group juga dilakukan untuk memperdalam pengetahuan yang telah diperoleh dari guru, dan pendalaman tersebut dilakukan bersama-sama dengan rekan lainnya, sehingga akan terjadi proses transformasi pengetahuan  antar siswa.
c) Hipotesis tindakan
Hipotesis merupakan dugaan sementara yang masih harus diuji kebenarannya. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu: 1) Meningkatkan  proses pelaksanaan model pembelajaran Quantum Teaching dengan Study Group dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran?2) Meningkatan keaktifan peserta didik kelas X TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen setelah melaksanakan model pembelajaran Quantum Teaching dengan Study Group?
METODE PENELITIAN
Desain penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Siklus 1 bertujuan mengetahui prestasi belajar kompetensi Statika dan keaktifan belajar dan sikap kemandirian peserta didik , dalam tindakan awal penelitian dan sekaligus digunakan sebagai refleksi untuk melakukan siklus 2. Siklus 2 bertujuan untuk mengetahui peningkatan perbaikan terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar yang didasarkan pada refleksi siklus 1.
Pada siklus 1 perencanaan berupa kegiatan-kegiatan menentukan langkah yang akan dilakukan untuk memperbaiki kelemahan dalam proses pembelajaran statika selama ini menggunakan model konvensional. Tahap ini bermanfaat agar pelaksanaan pada tahap tindakan lebih mudah, terarah dan sistematis. Tindakan yang dilakukan yaitu melaksanakan proses pembelajaran pada siklus 1 sesuai dengan perencanaan yang disusun. Tindakan yang dilakukan yaitu melaksanakan proses pembelajaran statika menggunakan model Quantum teaching dengan stady group. Observasi dilakuan untuk mengetahui segala peristiwa yang berhubungan dengan pembelajaran maupun respons terhadap teknik model pembelajaran yang digunakan guru. Data observasi diperoleh dari lembar observasi, catatan harian guru, catatan harian siswa, lembar wawancara, dan dokumentasi foto. Refleksi bertujuan untuk mengetahui kendala apa yang ditemui dalam meningkatkan prestasi belajar statika peserta didik .
Pada siklus 2,perencanaan adalahpenympurnaan dari perencanaan siklus . hasil refleksi siklus 1 dikoordinasikan dengan guru mata pelajaran statika kelas X TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen untk melakukan perencanaakan ulang. Tindakan yang dilakuan adalah dengan perencanaan yang telah disusun berdasarkan perbaikan pada siklus 1.  Materi pembelajaran sama seperti materi pelajaran siklus 1, yaitu 1) memahami kondisi keseimbangan ,2) mamahami prinsip kerja gaya aksi dan reaksi, serta keseimbangan gaya, 3)memahami macam-macam tumpuan, menerapkan dan menghitung reaksi tumpuan pada konstruksi statika, 4) menghitung gaya reaksi pada tumpuan bidang datar,5) menghitung gaya reaksi pada tumpuan jepitan,6) menghitung gaya reaksi pada tumpuan jepitan akibat beban merata, 7)menghitung gaya reaksi pada tumpuan jepitan akibat beban terbagi tidak merata,8) menghitung gaya reaksi pada tumpuan sendi dan rol. Tahap tindakan dilaksanakan dalam tiga tahap iatu persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap tindak lanjut. Observasi dilakuan untuk mengmpulkan data tentang sikap kemandirian dan respons siswa terhadap proses pembelajaraan dengan model Quantum teaching study group. Pengambilan data dilakukan dengan teknik tes dan non tes . refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil non tes yang dilakukan pada siklus 2.
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah mata pelajaran statika pada kelas X TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen.variabel penelitian ini adalah model Quantum teaching dengan study group , dan prestasi belajar Statika, keaktifan belajar, kemandirian peserta didik. Indikator kinerja dalam penelitian ini meliputi dua aspek yaitu kuantitatif dan kualitatif
Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu teknik tes dan teknik non tes. Tes dilakukan dengan menggunakan soal-soal. Tes dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada tes a siklus 1 dan tes b siklus 2. Skor penilaian berdasarkan aspek-aspek yang sudah ada. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis yang sesuai dengan materi, yaitu menerapkan teori keseimbangan .dalam melakukan tes ini diperlukan instrumen atau alat bantu yang berupa kriteria atau pedoman penilaian. Penilaian tersebut harus menunjukan pencapaian indikator yang telah ditentukan. Sedangkan teknik nontes yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar observasi, lembar jurnal,lembar wawancara, lembar dokumemtasi foto yang digunakan untuk mengungkapkan perubahan tingkah laku peserta didik selama mengikuti pembelajaran statika dengan model quqntum teaching dengan stady group.

a) Komparasi nilai kompetensi statika pada siklus I dan nilai kompetensi statika pada 
siklus II dapat dilihat dalam
b) Komparasi nilai sikap kemandirian peserta didik pada siklus I dan nilai sikap kemandirian peserta didik  pada siklus II dapat dilihat dalam tabel 34 sebagai berikut:

No Indikator
1 Saya menyukai pembelajaran statika dengan metode pembelajaran Quantum teaching dengan study group
2 Pembelajaran secara Quantum teaching dengan study group membuat saya mudah memahami  pelajaran
3 Saya berusaha menyelasaikan soal- soal materi statika
4 Saya tidak bertanya pada guru kalau mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan.
5 Saya lebih suka bertanya pada teman kalau mengalami kesulitan dalam pelajaran
6 Saya menjelaskan pada teman kalau ada teman yang kesulitan
7 Saya aktif menyampaikan ide saat berdiskusi
8 Saya tidak menyumbang ide saat berdiskusi
9 Dalam menyelesaikan soal, saya mengingat-ingat petunjuk guru.
10 Materi menghiung reaksi tumpuan jepit akibat beban merata dan beban tidak merata tidak penting dalam pelajaran statika.
11 Saya enggan enyelesaikan tugas rumah yang diberikan guru.
12 Saya mengerjakan soal tes dengan kemampuan saya sendiri
13 Saya menanyakan hal-hal yang kurang jelas saat teman kelompok lain presentasi
14 Saya paling senang mempresentasikan tugas kelompok
15 Saya tidak senang dengan usul anggota kelompok
16 Saya senang dengan penghargaan yang diraih kelompok saya.
17 Saya harus belajar lebih giat untuk meraih prestasi saya.
18 Saya kembali mempelajari materi pelajaran setelah di rumah
19 Belajar hanya pelajaran di sekolah saja
20 Saya mencoba menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru.

c) Komparasi pencapaian kretifitas belajar peserta didik pada siklus I dan siklus 2

No Asfek keaktifan
1 Mendengarkan dan memperhatikan presentasi/ penjelasan guru
2 Mencatat kegiatan guru
3 Merespons pertanyaan atau perintah guru
4 Mengajukan pertanyaan kepada guru jika menemukan masalah
5 Berpartisipasi dalam diskusi kelompok
6 Mengemukaan pendapat dalam kelompok
7 Mengerjakan soal dan lembar kegiatan 
8 Mempresentasikan hasil kerja kelompok.
Berdasarkan hasil penelitian ini selanjutnya peneliti merekomendasikan hal-hal sebagai berikut: Bagi guru disarankan untuk memantau perilaku sikap kemandirian, keaktifan belajar dan kopetensi belajar peserta didik, guru diharapkan dapat menyusun, menerapkan dan mengevaluasi pembelajaran, dengan membuat proses pembelajaran itu dibuat yang menyenangkan dan dibuat peserta didik aktif dalam proses pembelajaran sehingga terbentuk adanya imbal balik komunikasi antara guru dan siswa. Sehingga peserta didik dapat meningkatkan pencapaian standar kopetensi menerapkan ilmu statika dan tegangan, sekurang-kurangnya mencapai nilai Kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebesar 75 .
DAFTAR PUSTAKA.
jurnal.fkip.uns.ac.id/ index .phpl / pgsdkebumen / article /view /255/143
De Porter, Bobbi dan Mike Hernacki, 1999 . Quantum Learning : Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung : KAIFA.
Quantum Teaching, mengajar yang menyenangkan . 2009. www. Quantum Teaching .com. diunduh 25 Januari 2013
Irmina Titik P. 2010. Pelaksanaan Model Quantum Teaching dengan Study Group untuk Peningkatan Sikap Percaya Diri Siswa dan Prestasi Belajar Fisika.
 Kusumo Wardani . 2008. Metode Quantum Teaching Dengan Study Group Untuk Peningkatan Prestasi Belajar Geografi.
Zainal Aqib.2009. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru. Bandung: Yrama Widya









BACA SELENGKAPNYA »

Kamis, 28 Juni 2012

desain dan jenis data penelitian tindakan kelas (PTK)

Desain penelitian yang digunakan dalam peneltian ini adalah desain Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), yang dilakukan secara kolaboratif antara guru mata pelajaran dengan peneliti. Dalam memilih desain penelitian, seorang peneliti harus mengikuti proses mulai awal hingga akhir secara konsisten..

Menurut Hopkins, sebagaimana yang dikutip oleh Rochiati Wiriatmaja (2005: 11) PTK adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.

Menurut Ebbutt (1985), dalam Hopkins (1993) dikutip oleh Rochiati Wiriatmaja mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah kajian sistematik dan upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut (2005: 12).

Menurut T. Raka Joni (1998) dalam FX. Soedarsono (2001: 2) PTK merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukannya itu, serta untuk memperbaiki kondisi-kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan.

Secara ringkas Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu (Rochiati Wiriatmaja 2005: 13).

Secara singkat karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) atau PTK dapat disebutkan:

  1. Situasional, artinya berkaitan langsung dengan permasalahan konkret yang dihadapi guru dan siswa.
  2. Kontekstual, artinya upaya pemecahan yang berupa model dan prosedur tindakan tidak lepas dari konteksnya, mungkin konteks budaya, sosial politik, dan ekonomi di mana proses pembelajaran berlangsung.
  3. Kolaboratif, partisipasi antara guru-siswa dan mungkin asisten atau teknisi yang terkait membantu proses pembelajaran. Hal ini didasarkan pada adanya tujuan yang sama yang ingin dicapai.
  4. Self recletive dan self evaluative, pelaksana, pelaku tindakan, serta objek yang dikenai tindakan melakukan refleksi dan evaluasi diri terhadap hasil atau kemajuan yang dicapai. Modifikasi perubahan yang dilakukan didasarkan pada hasil refleksi dan evaluasi yang mereka lakukan.
  5. Fleksibel, dalam arti pemberian sedikit kelonggaran dalam pelaksanaan tanpa melanggar kaidah metodologi ilmiah. Misalnya, tidak perlu adanya prosedur sampling, alat pengumpul data yang lebih bersifat informal, sekalipun dimungkinkan dipakainya instrumen formal sebagaimana dalam penelitian eksperimental (Soedarsono FX, 2001: 5).

Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk memperbaiki, meningkatkan, dan mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik sebagai upaya pemecahan masalah, serta menemukan model dan prosedur tindakan yang memberikan jaminan terhadap upaya pemecahan masalah yang mirip atau sama, dengan melakukan modifikasi dan penyesuaian seperlunya. kegiatan pembelajaran dalam mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran (Soedarsono FX, 2001: 5).

Dalam Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) atau PTK, desain dapat digambarkan sebagai berikut:

clip_image001[4]

Gambar Alur Kerja PTK (Soedarsono FX, 2001: 18).

Pada gambar di atas, pada tahap awal, peneliti melakukan penjajagan (assesement) untuk menentukan masalah hakiki yang dirasakan terhadap apa yang telah dilaksanakan selama ini. Pada tahap ini peneliti dapat menimbang dan mengidentifikasi masalah-masalah dalam praktek pembelajaran (memfokuskan masalah), kemudian melakukan analisis dan merumuskan masalah yang layak untuk penelitian tindakan. Pada tahap kedua, berdasarkan masalah yang dipilih, disusun rencana berupa skenario tindakan atau aksi untuk melakukan perbaikan, peningkatan dan perubahan ke arah yang lebih baik dari praktek pembelajaran yang dilakukan untuk mencapai hasil yang optimal atau memuaskan. Pada tahap ketiga, dilakukan implementasi rencana atau skenario tindakan. Peneliti bersama-sama kolaborator atau partisipan (misalnya guru pamong, peneliti yang lain, serta siswa) melaksanakan kegiatan sebagaimana yang ditulis dalam skenario. Pemantauan atau monitoring dilakukan segera setelah kegiatan dimulai (on going procces monitoring). Rekaman semua kejadian dan perubahan yang terjadi perlu dilakukan dengan berbagai alat dan cara, sesuai dengan kondisi dan situasi kelas. Pada tahap keempat, berdasarkan hasil monitoring dilakukan analisis data yang dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk mengadakan evaluasi apakah tujuan yang dirumuskan telah tercapai. Jika belum memuaskan maka dilakukan revisi atau modifikasi dan perencanaan ulang untuk memperbaiki tindakan pada siklus sebelumnya. Proses daur ulang akan selesai jika peneliti merasa puas terhadap hasil dari tindakan yang dilakukan sesuai rencananya (Soedarsono FX, 2001: 19).

Secara sederhana, penelitian tindakan kelas dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur yang terdiri dari empat (4) tahap seperti terlihat pada gambar berikut:

clip_image003

Gambar (2) Model Kemmis dan Taggart (Rochiati Wiriatmaja, 2005: 66).

Tahap-tahap penelitian tindakan yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: pada tahap perencanaan (plan) peneliti menyusun pedoman observasi, menyusun rencana dan strategi pembelajaran serta panduan observasi. Pada kotak tindakan (act), kegiatan mengaplikasikan pendekatan konstruktivistik pada pembelajaran PAI dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa kelas VIII H SMP Negeri I Kota Indonesia, mengevaluasi proses dan hasil belajar. Pada kotak pengamatan (observe), mengobservasi proses pembelajaran dengan menggunakan check list observasi. Dalam kotak refleksi (reflect), peneliti melakukan refleksi terhadap pengaplikasian pendekatan konstruktivistik pada pembelajaran PAI.

Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan tersebut terkait dengan alur kerja PTK di atas dan dapat digambarkan sebagai berikut:

clip_image005

Gambar Prosedur Penelitian Tindakan Kelas.

Refferensi :

  • Wiriatmaja, Rochiati. 2005.  Metode Penelitian Tindakan Kelas.  Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • FX Sudarsono. 1988. Beberapa Prinsip dalam Penelitian. Yogyakarta: Bimbingan Penelitian Karya Ilmiah SEMA FIP IKIP Yogyakarta
BACA SELENGKAPNYA »

Jumat, 11 Mei 2012

Desain PTK Model Kurt Lewin

Desain Penelitian Tindakan Model Kurt Lewin. Model Kurt Lewin menjadi acuan pokok atau dasar dari adanya berbagai model penelitian tindakan yang lain, khususnya PTK. Dikatakan demikian, karena dialah yang pertama kali memperkenalkan Action Research atau penelitian tindakan. desain penelitian ptk

Konsep pokok penelitian tindakan Model Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu ;

  1. perencanaan (planning),
  2. tindakan (acting),
  3. pengamatan (observing), dan
  4. refleksi (reflecting).

Hubungan keempat komponen tersebut dipandang sebagai siklus yang dapat digambarkan sebagai berikut:alur penelitian ptk

BACA SELENGKAPNYA »

Selasa, 08 Mei 2012

Prosedur Pelaksanaan PTK penelitian Tindakan kelas

PTK dapat dilaksanakan secara individual dan berkelompok. Pelaksanaan secara individual termasuk PTK Individual, sedang pelaksanaan secara berkelompok termasuk PTK Kolaboratif. Untuk pelaksanaan secara berkelompok perlu dibentuk gugus-gugus pelaksana PTK. pengertian ptk

Prosedur Pelaksanaan PTK

  1. Menyusun proposal PTK.
    1. Dalam kegiatan ini perlu dilakukan kegiatan pokok, yaitu; (1) mendeskripsikan dan menemukan masalah PTK dengan berbagai metode atau cara, (2) menentukan cara pemecahan masalah PTK dengan pendekatan, strategi, media, atau kiat tertentu, (3) memilih dan merumuskan masalah PTK baik berupa pertanyaan atau pernyataan sesuai dengan masalah dan cara pemecahannya, (4) menetapkan tujuan pelaksanaan PTK sesuai dengan masalah yang ditetapkan, (5) memilih dan menyusun persfektif, konsep, dan perbandingan yang akan mendukung dan melandasi pelaksanaan PTK, (6) menyusun siklus-siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini dapat memecahkan masalah-masalah yang telah dirumuskan, (7) menetapkan cara mengumpulkan data sekaligus menyusun instrumen yang diperlukan untuk menjaring data PTK, (8) menetapkan dan menyusun cara-cara analisis data PTK.
  2. Melaksanakan siklus (rencana tindakan) di dalam kelas. Dalam kegiatan ini diterapkan rencana tindakan yang telah disusun dengan variasi tertentu sesuai dengan kondisi kelas. Selama pelaksanaan tindakan dalam siklus dilakukan pula pengamatan dan refleksi. baik pelaksanaan tindakan, pengamatan maupun refleksi dapat dilakukan secara beiringan, bahkan bersamaan. Semua hal yang berkaitan dengan hal diatas perlu dikumpulkan dengan sebaik-baiknya.
  3. Menganalisis data yang telah dikumpulkan baik data tahap perencanaan, pelaksnaan tindakan, pengamatan, maupun refleksi. Analisis data ini harus disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Hasil analisis data ini dipaparkan sebagai hasil PTK. Setelah itu, perlu dibuat kesimpulan dan rumusan saran.
  4. Menulis laporan PTK, yang dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan menganalisis data. Dalam kegiatan ini pertama-tama perlu ditulis paparan hasil-hasil PTK. Paparan hasil PTK ini disatukan dengan deskripsi masalah, rumusan masalah, tujuan, dan kajian konsep atau teoritis. Inilah laporan PTK.

Dilihat dari ruang lingkup, tujuan, metode, dan prakteknya, action research dapat dianggap sebagai penelitian ilmiah micro. Action research adalah penelitian yang bersifat partisipatif dan kolaboratif. Maksudya, penelitiannya dilakukan sendiri oleh peneliti, dan diamati bersama dengan rekan-rekannya. Action research berbeda dengan studi kasus karena tujuan dan sifat kasusnya yang tidak unik seperti pada studi kasus, action research tidak digunakan untuk menguji teori. Namun kedua macam penelitian ini mempunyai kesamaan, yaitu bajwa peneliti tidak berharap hasil penelitiannya akan dapat digeneralisasi atau berlaku secara umum.

Action research mendorong para guru agar memikirkan apa yang mereka lakukan sehari-hari dalam menjalankan tugasnya, membuat para guru kritis terhadap apa yang mereka lakukan tanpa tergantung pada teori-teori yang muluk-muluk yang bersifat universal yang ditemukan oleh para pakar penelitian yang sering kali tidak cocok dengan situasi dan kondisi kelas. Keterlibatan peneliti action research dalam penelitiannya sendiri itulah yang membuat dirinya menjadi pakar peneliti untuk kelasnya dan keperluan sehari-harinya dan tidak membuat ia tergantung pada para pakar peneliti yang tidak tahu mengenai masalah-masalah kelasnya sehari-hari.

Dalam bidang pendidikan, action research dianggap sebagai alternatif dari penelitian tradisional (penelitian yang biasa dilakukan). Modal utama peneliti action research adalah pengalamannya dalam bidang yang digeluti dan pengetahuan yang ia miliki. Sebenarnya action research dapat juga dilakukan dalam skala besar karena seperti dikatakan di atas, action research dilakukan bersama rekan-rekan seprofesi, sehingga mereka dapat berbagai pengalaman untuk kepentingan mereka misng-masing. Action research merupakan metode yang handal untuk menjembatani teori dan praktek (dalam pndidikan ), karena dengan action research para guru dianjurkan menemukan dan mengembangkan teorinya sendiri dari perakteknya sendiri.

BACA SELENGKAPNYA »

Minggu, 06 Mei 2012

Manfaat PTK Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dalam bahasa Inggris disebut Classroom Action Research (CAR) merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran, dan mencobakan hal-hal baru di bidang pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran. Pendek kata, PTK adalah ragam penelitian yang dimaksudkan untuk mengubah bebagai keadaan, kenyataan, dan harapan mengenai pembelajaran menjadi lebih baik dan bermutu dengan cara melakukan sejumlah tindakan yang dipandang tepat. ptk penelitian tindakan kelas

Manfaat PTK

  1. Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat menjadi bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan, antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.
  2. Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan guru. Hal ini telah ikut mendukung professionalisme dan karir guru.
  3. Mampu mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antar-guru dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.
  4. Mampu meningkatkan kemampuan guru dalam menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini memperkuat dan relevansi pembelajaran bagi kebutuhan siswa.
  5. Dapat memupuk dan meningkatkan keterlibatan , kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas yang dilaksanakan guru. Hasil belajar siswa pun dapat meningkatkan.
  6. Dapat mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, dan melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.
BACA SELENGKAPNYA »

Selasa, 01 Mei 2012

Tujuan PTK Penelitian tindakan kelas

Dalam pelaksanaannya, PTK diawali dengan kesadaran akan adanya permasalahan yang dirasakan mengganggu, yang dianggap menghalangi pencapaian tujuan pendidikan sehingga ditengarai telah berdampak kurang baik terhadap proses dan atau hasil belajar pserta didik, dan atau implementasi sesuatu program sekolah. Bertolak dari kesadaran mengenai adanya permasalahan tersebut, yang besar kemungkian masih tergambarkan secara kabur, guru  kemudian menetapkan fokus permasalahan secara lebih tajam kalau perlu dengan mengumpulkan tambahan data lapangan secara lebih sistematis dan atau melakukan kajian pustaka yang relevan. penelitian tindakan kelas

Tujuan PTK sebagai berikut :

  1. Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.
  2. Memperbaiki dan meningkatkan kinerja-kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.
  3. Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi masalah pembelajaran di kelas agar pembelajaran bermutu.
  4. Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya.
  5. Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya, pendekatan, metode, strategi, dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran.
  6. Mencobakan gagasan, pikiran, kiat, cara, dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru.
  7. Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada realitas empiris kelas, bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum atau asumsi.
  8. Memecahkan masalah-masalah melalui penerapan langsung di kelas atau tempat kerja (Isaac, 1994:27).
  9. Menemukan pemecahan masalah yang dihadapi sesorang dalam tugasnya sehari-hari dimana pun tempatnya, di kelas, di kantor, di rumah sakit, dan seterusnya.

 

Referensi :

  • Isaac, Stephen and William B. Michael. Handbook in Reasearch and Evaluation: For Education and the Behavioral Sciences. Third edition. San Diego, CA: EdiTS, 1994
BACA SELENGKAPNYA »

Senin, 30 April 2012

karakteristik ptk Penelitian Tindakan Kelas

Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya, PTK dapat berbentuk individual dan kaloboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK kaloboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau kelas orang lain, sedang dalam PTK kaloboratif beberapa orang guru secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar kelas.image

Karakteristik PTK

PTK memeliki sejumlah karakteristik sebagai berikut :

  1. Bersifat siklis, artinya PTK terlihat siklis-siklis (perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi), sebagai prosedur baku penelitian.
  2. Bersifat longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinyu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan "sekali tembak" selesai pelaksanaannya.
  3. Bersifat partikular-spesifik jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka mendapatkan dalil-dalil. Hasilnyapun tidak untuk digenaralisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain dan ditempat lain yang konteksnya mirip.
  4. Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekali gus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu diubah. Ini berarti guru berperan ganda, yakni sebagai orang yang meneliti sekali gus yang diteliti pula.
  5. Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang diteliti.
  6. Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian.
  7. Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; menggarap masalah-masalah besar.
  8. Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian.
  9. Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasifan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif. Sebab itu, PTK hanya menuntut penggunaan statistik yang sederhana, bukan yang rumit.
  10. Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.
BACA SELENGKAPNYA »

Sabtu, 14 April 2012

Desain PTK Model Kemmis & McTaggart

Desain PTK Model Kemmis & McTaggart merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin sebagaimana yang diutarakan di atas. Hanya saja, komponen acting (tindakan) dengan observing (pengamatan) dijadikan sebagai satu kesatuan. ptk guru

Disatukannya kedua komponen tersebut disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa antara implementasi acting dan observing merupakan dua kegiatan yang tidak terpisahkan. Maksudnya, kedua kegiatan haruslah dilakukan dalam satu kesatuan waktu, begitu berlangsungnya suatu tindakan begitu pula observasi juga harus dilaksanakan. Untuk lebih tepatnya, berikut ini dikemukakan bentuk designnya (Kemmis & McTaggart, 1990:14).

PTK Model Kemmis & McTaggart

Apabila dicermati, model yang dikemukakan oleh Kemmis & McTaggart pada hakekatnya berupa perangkat-perangkat atau untaian-untaian dengan satu perangkat terdiri dari empat komponen, yaitu ; perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Keempat komponen yang berupa untaian tersebut dipandang sebagai satu siklus. Oleh karena itu, pengertian siklus pada kesempatan ini adalah suatu putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi.
Pada gambar diatas, tmapak bahwa didalamnya terdiri dari dua perangkat komponen yang dapat dikatakan sebagai dua siklus. Untuk pelaksanaan sesungguhnya, jumlah siklus sangat bergantung kepada permasalahan yang perlu diselesaikan. Apabila permasalahan

Referensi ;

Kemmis and Taggart. 1990. The actioan Research Planner. Victoria. Deakin. Univ Press.

BACA SELENGKAPNYA »

Artikel Favorit