Kamis, 21 Maret 2013

Guru Aktif V Siswa Kreatif

Guru Aktif V Siswa Kreatif

Menela’ah pendidikan Multikultural

Guru Aktif dan kreatif pasti diinginkan oleh setiap siswa. Siswa merasa senang dan nyaman belajar di sekolah tanpa ada yang membebani. Menurut pengalaman teman penulis waktu masih duduk di bangku sekolah, kalau ada sebagian guru menyampaikan materinya kurang meyakinkan, lebih-lebih tidak kreatif. Biasanya, tidak dapat merangsang siswa dengan bentuk apapun. Maka, kecendrungan siswa lebih senang mencari sensasi baru sekedar untuk menghilangkan rasa jenuh. Salah satunya dapat di lakukan dengan membaca buku selain materi, laiknya buku novel yang bersitus porno, berbicara dengan temannya dengan suara tidak nyaring. Tragisnya, kadang siswa mendahulukan tidur dari pada mendengarkan. Asumsi siswa, mengapa harus mendengarkan penjelasan Guru. Jika pada akhirnya keterangannya masuk lewat telinga kanan, keluar ketelinga paling kiri.image

Selain sosok guru menjadi cerminan moral merka juga sebagai seorang pendidik yang selalu mengarahkan anak didiknya pada nilai-nilai kesopanan dan berakhlaqul karimah pada setiap manusia. ketampangan guru adalah merekontruksi anak didiknya dalam membangun motivasi atas potensi besar yang dimuliki dalam diri masing-masing siswa yang harus dikembangkan di sekolah.

Ketika penulis melihat gelagat para guru swasta. Tugas guru adalah bagaimana siswa bisa bersekutu dengan ilmu pengetahuan merupakan salah satu tendensi kuat untuk kemajuan dunia pendidikan dalam menentukan masa depan siswa yang lebih baik. Atas motivasi guru pada anak didiknya, selalu diorentasikan untuk dapat mensenergikan kemampuan siswa dalam konteks memupuk intelektual question, emusional question sekaligus spritual question yang di miliki setiap siswa di sekolah.

Sebab, model perkembangan pendidikan saat ini, merupakan satu sistem yang merekontruksi bermacam cara bagaimana meningkatkan kualitas belajar Siswa di sekolah secara baik, baik swasta sekalipun negeri adalah sama saja berorentasi pada ilmu pengetahuan. Dalam catatan sejarah pendidikan Indonesia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya, sekalipun dalam masyarakat yang masih terbelakang.

Pendidikan sebagai usaha sadar yang dibutuhkan untuk menyiapkan anak didik demi menunjang perannya di masa akan datang. Jadi, pendidikan yang dilakukan suatu bangsa tentu memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan kemajuan bangsa. Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan asasi manusia, bahkan M. Natsir menegaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan maju mundurnya kehidupan masyarakat di hari esok.

Sistem pendidikan nasional lebih bercerikan ”keseragaman” berlandaskan pada budaya nasional, berdiri diatas puncak-puncak kebudayaan daerah. Pendidikan diselenggarakan dengan aturan dalam konteks mayoritas yang bersaing dan berhadap dengan minoritas dan dikelola oleh pemerintah untuk meluaskan atau mempersempit hal-hal yang substansi atau penting yang menyangkut dengan lingkup dan alokasi kewenangan.

Seiring dengan proses desentralisasi pendidikan yang dalam melibatkan peran serta masyarakat mengisyaratkan pengakuan terhadap manusia Indonesia dan masyarakat setempat [konsep otonomi daerah]. Ini berarti Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional ditinjau dari persepektif filosofis harus beranjak dari suatu paradigma baru pendidikan menuju pada pengakuan terhadap aspirasi masyarakat dan individu. Dengan sendirinya, paradigma baru dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional harus mengacu pada pendidikan multikultural yaitu adanya kebudayaan beragam dalam suatu masyarakat yang tetap merupakan kesatuan”Bhineka Tunggal Ika”. Demikian kebutuhan pembelajaran individu berada dalam perbedaan realitas sosio-historis, sosio-ekonomis, suku-bangsa, sosio-psikologis. Artinya akan dihadirkan populasi sasaran beragam dalam konteks sistem pendidikan dan persekolahan.

Tanpaknya sistem pendidikan kita masih harus dikelola dengan baik, konsisten, kuat secara nasional yang berdasar pada konsep keragaman atau kebhinnekaan multikultural. Sementara sampai pada masa reformasi seperti yang sudah berjalan saat ini, sistem pendidikan nasional kita tetap hanya bercerikan ”keseragaman” yang berlandaskan pada budaya nasional dan bukan berfokus pada konsep pendidikan multikultural. Sedangkan realitas Indonesia yang multikultural dengan berbagai masalah dalam masa reformasi sekarang, terlihat adanya kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi kembali “pendidikan nasional Indonesia” yang dapat mejadi “integrating force” yang memproses, menghidupkan dan mengikat seluruh keragaman etnis, sukubangsa, agama dan budaya dalam prinsip Indonesia sebagai negara “bhinneka tunggal ika”.

Selain pendidikan merupakan lapangan yang sentral dalam upaya menerjemahkan gagasan multikullturalisme yang menjadi kenyataan dalam perilaku kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Pada posisi ini, pendidikan multikultur memegang peranan kunci, sebab pendidikan merupakan lapangan sentral dalam upaya menerjemahkan dan mensosialisasikan gagasan multikullturalisme, sehingga menjadi kenyataan dalam perilaku. Tetapi ”perlu diketahui, bahwa gagasan pendekatan multikultur relatif baru dianggap sesuai bagi masyarakat Indonesia yang heterogen.

IDENTITAS PENULIS

image Penulis : Ernawi Sa’bi

Anggota : Forum Study Semesta (FOSITA)

: Aliansi Peduli Masyarakat Desa

Alamat : Gapura Timur Gapura Sumenep

Kecamatan : Batang-Batang

Kode Pos : 69473

Status : Guru MI Nasy’atul Muta‘allimin

BACA SELENGKAPNYA »

PTK PENINGKATAN KETUNTASAN BELAJAR dengan MAKE A MATCH

PENINGKATAN KETUNTASAN BELAJAR PENINGGALAN SEJARAH DI INDONESIA MELALUI TEKNIK MENCARI PASANGAN (MAKE A MATCH) PADA PESERTA DIDIK KELAS VA SD N WONOREJO POLOKARTO SUKOHARJO SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENDAHULUAN

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang kelihatannya sederhana, namun sangat besar manfaatnya bagi perkembangan pola pikir peserta didik, karena didalamnya terkandung materi yang mendekatkan diri peserta didik dengan perjalanan panjang bangsa Indonesia hingga seperti sekarang. image

Salah satu kompetensi yang dibahas dalam mata pelajaran IPS pada kelas V semester I yaitu tentang peninggalan sejarah hindu-budha dan islam di Indonesia. Materi ini menuntut kemampuan peserta didik dalam menghafal berbagai peninggalan sejarah dari kerajaan-kerajaan hindu-budha dan islam yang pernah ada di Indonesia dan lokasinya sekarang.

Pembelajaran yang telah dilakukan dengan menggunakan media gambar secara konvensional menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Sebagian peserta didik masih mengalami kesulitan dalam memahami dan menghafal materi yang disampaikan. Hal ini bisa dilihat dari hasil evaluasi yang menunjukkan bahwa peserta diik yang memperoleh nilai diatas KKM (65) hanya 7 peserta didik dari total 19 peserta didik (36,84%) dan 12 peserta didik (63,16%) memerlukan remedial. Rendahnya persentase ketuntasan belajar materi peninggalan sejarah di Indonesia ini menandakan bahwa pembelajaran yang dilakukan harus diperbaiki.

Salah satu cara untuk meningkatkan ketuntasan belajar materi ini yaitu dengan menggunakan teknik mencari pasangan. Teknik ini dikenal pula dengan nama Make a Match, yang dikembangkan oleh Larana Curran pada tahun 1994. Keunggulan teknik ini yaitu peserta didik mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep dalam suasana belajar yang menyenangkan (Sugiyanto, 2008: 47).

Teknik mencari pasangan (Make a Match) dalam pembelajaran materi ini diharapkan dapat meningkatan ketuntasan belajar peninggalan sejarah di Indonesia pada peserta didik kelas VA SD N Wonorejo semester I tahun pelajaran 2012/2013.

Berdasarkan pernyatan diatas, maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini yaitu berapa persen peningkatan ketuntasan belajar peninggalan sejarah di Indonesia pada peserta didik kelas VA SD N Wonorejo semester I tahun pelajaran 2012/2013.

Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui berapa persen peningkatan ketuntasan belajar peninggalan sejarah di Indonesia pada peserta didik kelas VA SD N Wonorejo semester I tahun pelajaran 2012/2013.

Manfaat teoritis penelitian ini yaitu: a) dapat memberikan sumbangan terhadap peningkatan mutu pendidikan melalui pembelajaran yang tepat, agar menghasilkan sumber daya yang berkualitas; dan b) sebagai sumber referensi bagi guru lain, dalam penelitian yang dilakukan pada masa yang akan datang dengan materi yang terkait.

Sedangkan, manfaat praktis penelitian ini yaitu: a) bagi peserta didik, diharapakan setelah diterapkannya teknik mencari pasangan dalam pembelajaran, dapat memberikan pengalaman belajar dan meningkatkan ketuntasan belajarnya; b) bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif teknik pembelajaran dengan materi yang sama; c) bagi sekolah, diharapkan dapat memberikan masukan kepada pihak sekolah dalam usaha perbaikan proses pembelajaran yang digunakan, sehingga berdampak pada peningkatan mutu sekolah.

LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Hakikat Belajar

Slameto ( 2003: 2) mengatakan bahwa “ belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperolah suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

Sedangkan W.S. Winkel (1996: 53) mengemukakan bahwa “ belajar adalah aktivitas mental/ psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungannya, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas”.

Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah kegiatan yang dilakukan seseorang dengan berinteraksi langsung dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan dalam diri seseorang tersebut kearah yang lebih baik dari sebelumnya.

Ketuntasan Belajar

Sularyo (2004: 6) dalam Edi Wuryanto (2011: 13) menuliskan ketuntasan belajar sebagai pencapaian taraf penguasaan minimal yang telah ditetapkan guru dalam tujuan pembelajaran setiap satuan pelajaran.

Ketuntasan belajar yang akan dicapai dalam pembelajaran, ada dua macam yaitu a) ketuntasan secara pribadi peserta didik, artinya seluruh peserta didik harus mencapai minimal nilai ketuntasan minimal yang telah ditetapkan; dan b) ketuntasan secara materi pelajaran, artinya jika prosentase ketuntasan secara klasikal sudah melewati prosentase daya nserap yang telah ditetapkan, maka materi dikatakan tuntas.

Teknik Mencari Pasangan (Make a Match)

Sugiyanto (2008: 46) Mencari pasangan (Make a Match) merupakan teknik pembelajaran yang termasuk dalam metode struktural. Metode ini dikembangkan oleh Spencer Kagan dkk.

Adapun langkah-langkah pembelajarannya (Sugiyanto, 2008: 47) sebagai berikut: 1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa topik (tulisan atau gambar); 2) Setiap peserta didik mendapatkan satu kartu; 3) Setiap peserta didik mencari pasangannya masing-masing (sesuai dengan isi kartunya); 4) Peserta didik bergabung dengan pemegang kartu yang memiliki topik sama dengan dirinya (menjadi satu kelompok); 5) Setiap kelompok menyelesaikan tugas yang diberikan guru secara bersama-sama; dan 6) Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dimuka kelas.

Kerangka Berpikir

Ketuntasan belajar peninggalan sejarah di Indonesia pada peserta didik kelas VA SD N Wonorejo semester I tahun pelajaran 2012/2013 dengan menggunakan metode konvensional masih rendah.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan ketuntasan belajar peninggalan sejarah di indonesia, guru menerapkan teknik mencari pasangan ( Make a Match) dalam pembelajaran.

clip_image001 Melalui teknik mencari pasangan (Make a Match), diharapkan ketuntasan belajar peninggalan sejarah di Indonesia pada peserta didik kelas VA SD N Wonorejo tahun pelajaran 2012/2013 akan meningkat. Alur kerangka berpikir dapat dilihat sebagai berikut:

Hipotesis Tindakan

berdasarkan landasan teoritis dan kerangka berpikir tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini yaitu ketuntasan belajar peninggalan sejarah di Indonesia peserta didik kelas VA SD N Wonorejo semester I tahun pelajaran 2012/2013 dapat meningkat.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di SD N Wonorejo pada semester I tahun pelajaran 2012/2013 selama 2 minggu (4x pertemuan).

Subjek penelitian ini yaitu peserta didik kelas VA SD N Wonorejo, yang berjumlah 19 peserta didik terdiri atas 13 putra dan 6 putri. Sedangkan objek penelitian ini yaitu mata pelajaran IPS pada pokok bahasan peninggalan sejarah di indonesia.

Prosedur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, dilakukan dalam 2 siklus dan setiap siklusnya terdiri atas tahap identifikasi masalah, perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.

Indikator keberhasilan penelitian ini yaitu adanya peningkatan prosentase ketuntasan belajar peninggalan sejarah di indonesia peserta didik kelas VA SD N Wonorejo semester I tahun pelajaran 2012/2013 dari 36,84 % (6 peserta didik) pada kondisi awal menjadi 63,16% (12 peserta didik) pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 78,94% ( 15 peserta didik) pada siklus II.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA

Hasil penelitian yang dilakukan dapat dijabarkan sebagai berikut;

Kondisi Awal

Pembelajaran IPS materi peninggalan sejarah hindu-budha dan islam di Indonesia dilakukan dengan media gambar secara konvensional. Guru sangat mendominasi proses pembelajaran, sementara peserta didik mendengarkan dan manghafalkan. Sehingga, ketika dilakukan evaluasi akhir pembelajaran didapatkan hasil yang kurang memuaskan, dari 19 peserta didik, hanya 6 peserta didik (36,84%) yang mendapatkan nila sama dengan atau lebih besar dari KKM yang telah ditetapkan yaitu 65. Dari keadaan tersebut, sehingga guru mengadakan penelitian untuk meningkatkan ketuntasan belajar peninggalan sejarah di Indonesia pada peserta didik kelas VA SD N Wonorejo semester I tahun pelajaran 2012/2013 dengan menerapkan teknik mencari pasangan (Make a Match) dalam pembelajaran.

SIKLUS I

Pelaksanaan proses pembelajaran disiklus I dimulai dengan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan teknik mencari pasangan, dilaksanakan pada tanggal 27 Agustus 2012. Dari pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan teknik mencari pasangan (Make a Match) siklus I, perolehan nilai evaluasi peserta didik dapat dilihat pada histogram berikut:

clip_image003

Melihat histogram yang tersaji diatas, dapat dilihat bahwa pada siklus I, peserta didik yang memiliki ketuntasan belajar (KKM 65) sebanyak 12 peserta didik atau 63,16% dari 19 peserta didik. Dengan demikian, berarti indikator keberhasilan siklus tahap I telah tercapai. Selanjutnya dilanjutkan dengan siklus II untuk mencapai indikator siklus II sesuai prosentase ketuntasan yang telah ditetapkan yaitu 75% peserta didik dapat tuntas dalam materi peninggalan sejarah di Indonesia.

SIKLUS II

Pelaksanaan proses pembelajaran disiklus II dimulai dengan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran, yang direfleksikan dari pelaksanaan pembelajaran siklus I. Pembelajaran siklus II dilaksanakan pada tanggal 3 September 2012. Dari pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan teknik mencari pasangan (Make a Match) siklus I, perolehan nilai evaluasi peserta didik dapat dilihat pada histogram berikut:

clip_image005

Melihat histogram yang tersaji diatas, dapat dilihat bahwa pada siklus II, peserta didik yang memiliki ketuntasan belajar (KKM 65) sebanyak 17 peserta didik atau 89,47% dari 19 peserta didik. Dengan demikian, berarti indikator keberhasilan siklus tahap II telah tercapai. Dengan demikian, maka dapat dilihat bahwa dengan penerapan teknik mencari pasangan (Make a Match) pada pembelajaran IPS materi peninggalan sejarah di Indonesia dikelas VA SD N Wonorejo, prosentase ketuntasan dapat meningkat dari 36,84% (6 Peserta didik) pada awal menjadi 63,16% (12 peserta didik) pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 89,47% (17 peserta didik) pada siklus II. Adanya peningkatan ini membuktikan bahwa penerapan teknik mencari pasangan (Make a Match) dalam pembelajaran IPS materi peninggalan sejarah di indonesia telah berhasil meningkatkan ketuntasan belajar peserta didik kelas VA SD N Wonorejo semester I tahun pelajaran 2012/2013.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik mencari pasangan (Make a Match) dalam pembelajaran IPS materi peninggalan sejarah di Indonesia telah berhasil meningkatkan ketuntasan belajar peserta didik kelas VA SD N Wonorejo semester I tahun pelajaran 2012/2013. Dengan prosentase ketuntasan akhir 89,47% atau 17 peserta didik dari 19 peserta didik tuntas.

Saran

Berdasarkan simpulan diatas, maka saran yang diberikan yaitu; 1) Guru hendaklah lebih kreatif dalam memilih berbagai metode dan teknik pembelajaran saat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran bagi peserta didiknya, agar hasil belajarnya memuaskan; 2) Pihak sekolah hendaknya sering mengadakan pelatihan bagi guru-guru agar guru-guru di sekolahnya menjadi guru yang profesional.

Referensi :

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiyanto. 2008. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Rayon 13. Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Winkel.,W.S. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo.

Wuryanto, Eko. 2011. Penerapan Metode Belajar Kelompok dalam Upaya Meningkatkan ketuntasan Belajar Siswa Mata Pelajaran IPA Biologi konsep Sistem Peredaran Darah Kelas VIIIB Semester I SMP N 2 Brebes. Pedagogik Jurnal Pendidikan Dasar dan Menengah, Vol. 5 No. 2, Mei 2011. Laboraatorium Baca Tulis UNNES Semarang.

Zainal, Aqib. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya.

 

IDENTITAS PENULIS

clip_image002Judul Artikel :

PENINGKATAN KETUNTASAN BELAJAR PENINGGALAN SEJARAH DI INDONESIA MELALUI TEKNIK MENCARI PASANGAN (MAKE A MATCH) PADA PESERTA DIDIK KELAS VA SD N WONOREJO POLOKARTO SUKOHARJO SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Nama Pengarang : AGUS RIYANTO

Nomor Identitas, NIP, NIY : 198608082009031002

Institusi Kerja : SD N WONOREJO, KEC. POLOKARTO

Email : agusriyantosragen@gmail.com

Alamat Blog : agusriyantomiri.wordpress.com

Facebook : Agus Riyanto

BACA SELENGKAPNYA »

Selasa, 19 Maret 2013

MERANCANG PENGELOLAAN KEGIATAN LABORATORIUM IPA DI SEKOLAH

Peningkatan mutu masih merupakan prioritas pembangunan pendidikan di Indonesia. Sasarannya adalah perbaikan mutu proses belajar mengajar di kelas dengan berorientasi pada setiap aspek perkembangan siswa. Secara naluriah, siswa menginginkan pengalaman belajar yang konkret, menyenangkan, dan mencakup semua aspek perkembangan dirinya.

Sesuai dengan karakteristik pembelajaran IPA di sekolah yang mengutamakan kerja ilmiah sehingga siswa dapat bersikap ilmiah dan selanjutnya konsep yang telah dikuasai akan diterapkan dalam usaha pemenuhan kebutuhan hidup. Tuntutan pembelajaran IPA tidak mungkin dapat terpenuhi apabila tidak didukung oleh kemampuan guru dalam menyelenggarakan kegiatan praktikum di laboratorium sebagai kunci keberhasilan pembelajaran IPA. Guru di sekolah secara umum tidak didampingi oleh seorang laboran atau teknisi ketika memfasilitasi kegiatan praktikum, mengingat sebagai besar sekolah saat ini belum memiliki kedua tenaga teknis pendukung di laboratorium, namun demikian ini bukan berarti kegiatan praktikum tidak dilaksanakan, justru guru harus mengambil peran sebagai guru dan sekaligus sebagai laboran.

clip_image001

Mengingat kegiatan praktikum dalam pembelajaran IPA bertumpu sepenuhnya pada guru sehingga dalam pelaksanaan praktikum yang bermutu tentu guru harus terlebih dahulu memiliki kompetensi menyelenggarakan kegiatan praktikum dari mulai persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut dari setiap kegiatan praktikum yang dilaksanakan. Oleh karena itu, guru harus memiliki kemampuan mengelola laboratorium IPA sehingga siswa dapat melatih siswa untuk menerapkan kerja ilmiah sesuai prosedur.

Berdasarkan fungsinya, pertama, laboratorium menjadi tempat bagi guru untuk mendalami konsep, mengembangkan metode pembelajaran, memperkaya pengetahuan dan keterampilan, dan sebagainya. Kedua, sebagai tempat bagi siswa untuk belajar memahami karakteristik alam dan lingkungan melalui optimalisasi keterampilan proses serta mengembangkan sikap ilmiah. Jadi laboratorium sangat diperlukan dalam pembentukan sikap ilmiah siswa.

Dalam kenyataannya, pemanfaatan keberadaan laboratorium IPA di sekolah-sekolah masih sangat minim. Tak sedikit sekolah yang memiliki laboratorium lengkap, tetapi tidak digunakan dengan maksimal. Berbagai hal menjadi kendalanya, antara lain tidak adanya petugas laboratorium (laboran) yang berfungsi untuk mengelola laboratorium tersebut. Kurang perhatian pengelolaan laboratorium, menyebabkan minimnya pengetahuan siswa tentang pelajaran yang diterima dalam kelas. Mereka hanya sebatas mengetahui teori, tanpa mengerti praktek ilmiahnya.

Oleh sebab itu, diperlukan usaha dari pihak terkait untuk memberdayakan dan mengaktifkan kembali fungsi laboratorium di sekolah-sekolah demi meningkatkan mutu pendidikan. Dengan adanya tenaga pengelola laboratorium (laboran) di sekolah, sedikit banyaknya dapat membantu mengaktifkan kembali laboratorium yang ada. Sebab, pengelola laboratorium (laboran) bertanggung jawab terhadap administrasi laboratorium berupa buku inventaris alat/bahan, blanko permintaan alat, blanko permintaan bahan, program kegiatan laboratorium, buku harian kegiatan laboratorium, jadwal kegiatan laboratorium, serta menyusun/menata alat menurut jenis dan bahan menurut sifatnya. Dari uraian tugas tersebut, terlihat bahwa pengelola laboratorium (laboran) dapat membantu guru dan siswa dalam proses belajar demi terciptanya pembelajaran IPA yang maksimal (Erwanti, 2010).

Berdasarkan hasil pemantauan Direktorat Pendidikan Menengah Umum dan Inspektorat Jendral (2003), Laboratorium IPA SMP yang pemanfaatan dan pengelolaannya sebagai sumber belajar yang belum optimal atau tidak digunakan disebabkan oleh berbagai faktor yaitu; (1). Kemampuan dan penguasaan guru terhadap peralatan dan pemanfaatan bahan praktek masih belum memadai, (2). Kurang memadai baik secara kualitas maupun kuantitas tenaga laboratorium, (3). Banyak alat-alat laboratorium dan bahan yang sudah rusak yang belum diadakan kembali, dan (4) Tidak cukupnya/terbatasnya alat-alat dan bahan mengakibatkan tidak setiap siswa mendapat kesempatan belajar untuk mengadakan eksperimen.

Dalam pendidikan IPA kegiatan laboratorium merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar, khususnya IPA. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peranan kegiatan laboratorium untuk mencapai tujuan pendidikan IPA. Terdapat empat alasan mengenai pentingnya praktikum IPA. Pertama, praktikum membangkitkan motivasi belajar sains. Belajar siswa dipengaruhi oeh motivasi siswa yang termotivasi untuk belajar akan bersunguh-sungguh dalam mempelajari sesuatu. Melalui kegiatan laboratorium, siswa diberi kesempatan untuk memenuhi dorongan rasa ingin tahu dan ingin bisa. Prinsip ini akan menunjang kegiatan praktikum dimana siswa menemukan pengetahuan melalui eksplorasinya terhadap alam. Kedua, praktikum mengembangkan keterampilan dasar melakukan eksperimen. Melakukan eksperimen merupakan kegiatan yang banyak dilakukan oleh para ilmuwan. Untuk melakukan eksperimen ini diperlukan beberapa keterampilan dasar seperti mengamati, mengestimasi, mengukur, dan memanipulasi peralatan IPA.

Dengan kegiatan prktikum siswa dilatih untuk mengembangkan keterampilan dasar melakukan eksperimen dengan melatih kemampuan mereka dalam mengobservasi dengan cermat, mengukur secara akurat dengan alat ukur yang sederhana atau lebih canggih, menggunakan dan menangani alat secara aman, merancang, melakukan dan menginterprestasikan eksperimen. Ketiga, praktikum menjadi wahana belajar pendekatan ilmiah. Banyak para pakar pendidikan IPA menyakini bahwa cara yang terbaik untuk belajar pendekatan ilmiah adalah dengan menjadikan siswa sebagai scientis. Beberapa pakar pendidikan mempunyai pandangan yang berbeda terhadap kegiatan praktikum, sehingga melahirkan beberapa metode dan model praktikum, seperti misalnya: model praktikum induktif, verifiksi, inkuari. Di dalam kegiatan praktikum menurut pandangan ini siswa bagaikan seorang scientist yang sedang melakukan eksperimen, mereka dituntut untuk merumuskan masalah, merancang eksperimen, merakit alat, melakukan pengukuran secara cermat, menginterprestasi data perolehan, serta mengkomunikasikannya melalui laporan yang harus dibuatnya. Keempat, praktikum menunjang materi pelajaran. Dari kegiatan tersebut dapat disimpulkan bahwa prktikum dapat menunjang pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.

Kemampuan guru dalam pengelolaan laboratorium disesuaikan dengan Permendiknas No. 26 tahun 2008 tentang Standar Tenaga Pengelola Laboratorium Sekolah/Madrasah. Pengelolaan laboratorium IPA meliputi; mengkoordinasikan kegiatan praktikum dengan guru, menyusun jadwal kegiatan laboratorium, memantau pelaksanaan, kegiatan laboratorium, mengevaluasi kegiatan laboratorium, mengelola kegiatan laboratorium sekolah/madrasah, menyusun laporan kegiatan laboratorium, dan mengkoordinasikan kegiatan praktikum. Oleh karena itu, dalam kegiatan pelatihan pengelola laboratorium IPA di sekolah untuk kompetensi pengelolaan laboratorium disesuaikan dengan peraturan menteri tersebut.

BACA SELENGKAPNYA »

Sabtu, 16 Maret 2013

Contoh Tema Dan Judul PENELITIAN PENDIDIKAN BERBASIS LABORATORIUM

CONTOH – CONTOH PENELITIAN PENDIDIKAN BERBASIS LABORATORIUM

1. Pengaruh Model Asistensi dengan Pendekatan Tutor Sebaya Secara Estafet Terhadap Pemahaman Analisis Data Metode Grafik pada Laporan Praktikum Jembatan Wheatstone.

Ferry Purwanto, Ani Rusilowati, Sunarno

2. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa Smp N 2 Blora Dalam Pokok Bahasan Kalor

W. A. Utomo, M. Sukisno, Sunarno

3. Optimalisasi Pengelolaan Laboratorium IPA Untuk Meningkatkan Kinerja Pengelola Dan Pengguna Laboratorium IPA SMP Negeri 18 Semarang

Yennie Palupi, Hadi Susanto, Sunarno

4. Kesiapan Laboratorium Fisika Di SMA Negeri Se-Kabupaten Rembang Dalam Mendukung Pembelajaran Fisika

Febrian Musfiyanto, Hadi Susanto, Sunarno

clip_image001

TEMA – TEMA YANG DAPAT DIKERJAKAN UNTUK PENELITIAN :

1. Efisiensi lampu pijar untuk berbagai merk.

2. Penentuan kualitas berbagai lampu hemat energi berdasarkan panjang gelombangnya.

3. Pengaruh suhu terhadap karakteristik berbagai komponen elektronika

4. Penentuan kualitas minyak goreng untuk beberapa kali pemakaian berdasarkan uji kekentalannhya.

5. Deteksi tingkat pencemaran air pada sungai x berdasarkan nilai pH dan indeks biasnya.

BACA SELENGKAPNYA »

Artikel Favorit